Cerpen Creative Content Kearifan Lokal

KALADAN (KEMANA LANGKAHKU, ADA NAMAMU) Part 7

Kentang yang merupakan sumber energi karena mengandung karbohidrat dapat dijadikan sebagai pengganti nasi. Maklum kebiasaan masyarakat Banjar adalah belum bisa disebut makan kalau tidak makan nasi. Namun, kebiasaan itu harus dilupakan dulu saat berada di puncak bukit. Kentang yang direbus tadi dimakan mereka bersama telur yang merupakan sumber protein dan diberi kecap sedikit agar menambah cita rasanya.

Berkaitan dengan kegiatan masak-memasak, ibu Gisa berusaha mengingatkan para pendaki lain agar tidak membuang sisa-sisa makanan langsung ke sekitar tempat memasak atau di sekitar tempat mendirikan kemah. Karena selain mengotori tempat itu sendiri juga dapat mengundang hewan-hewan liar untuk memakannya. Atas tindakannya itu, ibu Gisa sengaja menyediakan kantong sampah plastik yang cukup besar untuk menampung sisa-sisa makanan dari para pendaki yang lain. Sikap bu Gisa ini adalah sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai pendaki yang harus menjaga kelestarian bukit Matang Kaladan.

Ayah Sari terlihat sangat lahap memakannya. Begitu pula dengan Sari dan ibu Gisa mereka sangat menikmati suasana makan malam itu. Malam itu sungguh indah, makan di bawah langit malam yang penuh dengan miliyaran galaksi beserta triliunan bintang yang bersinar sangat terang. Di mana lagi bisa menikmati makan malam seindah itu, makan sambil leluasa melihat langit malam yang memamerkan suasana galaksi penuh bintang beserta hiasan malam yang tergantung di sana dan dihibur dengan petikan senar gitar serta alunan lagu merdu. Tentunya membuat hati para penikmatnya bergetar dan bahagia, bahkan suasana hotel bintang lima pun kalah.

Malam yang indah itu mereka habiskan mengobrol bersama para pendaki lainnya sambil menikmati hiburan-hiburan malam yang ada. Seperti bernyanyi bersama dan membakar jagung bersama. Jagung yang dibawa oleh salah satu pendaki mereka bakar bersama. Suasana bakar jagung ini tentu saja semakin menambah kehangatan dan keakraban antar para pendaki.

Semilir angin malam pun mulai mendera tubuh Sari, sebagai tanda bahwa tubuhnya harus istirahat agar esok pagi bisa menikmati keindahan pemandangan di bukit Matang Kaladan. Ya, waktu yang tepat untuk menikmati keindahan di bukit itu adalah pada saat matahari terbit, karena kalian akan bisa melihat matahari terbit yang begitu indah dari puncak bukit.

Tak lama setelah memasuki kemah, terdengar teriakan Sari dari dalam kemahnya. Pak Andri pun dengan cepat masuk ke dalam kemah untuk mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata seekor kalajengking hampir saja menggigit Sari, untungnya dengan sigap pak Andri mengusir kalajengking itu dari kemah. Kejadian itu sempat membuat geger para pendaki lainnya takut jika kemah mereka akan dimasuki kalajengking juga. Namun, rasa kantuk membuat mereka melupakan kejadian itu dan memulai mimpi indah mereka.

Begitu pula dengan keluarga Sari mereka tidak mau kalah untuk memulai mimpi yang indah di tempat itu. Mimpi indah menggapai puncak surgawi Borneo dan berharap ketika mereka bangun esok harinya mimpi itu benar-benar terwujud. Tidur beralaskan tanah mungkin yang terbayangkan adalah kurang mengenakkan dan sakit, tidak seenak tidur di atas kasur yang empuk. Namun, itu semua salah justru tidur beralaskan tanah memiliki keunikan sendiri. Kalian bisa merasakan aroma tanah basah yang mengasap dengan wangi yang justru menjadi wangi tersendiri yang tidak akan pernah kalian temui dan kalian hirup di kota. Aroma tanah yang khas itu dia sesap dengan hela paling jauh ke dasar paru-paru.

Suasana tidur Sari tidaklah sunyi senyap melainkan dihibur oleh suara kelotok atau perahu bermesin yang digunakan para pelayar malam sebagai transportasi. Suara kelotok yang ramai menjadi alunan nada tersendiri bagi pendengarnya. Alunan nada pemberitahu bahwa begitu berat hidup yang mereka jalani. Disaat kalian tertidur lelap, mereka justru sedang berusaha untuk menyambung hidupnya.

Hidup memang adalah anugrah yang harus selalu kita syukuri. Apapun hidup yang sedang kita jalani sekarang, nikmati saja dan teruslah ikuti alurnya dan yang pasti jangan pernah menyerah karena Tuhan akan selalu memberi jalan.

Pukul 05.00 WITA bu Gisa membangunkan Sari dari tidur nyenyaknya. Sepertinya Sari bermimpi indah sekali malam itu sehingga dirinya begitu sulit dibangunkan. Namun, teringat akan tujuannya pergi ke puncak bukit Matang Kaladan membuat Sari segera membuka matanya dan bersiap untuk melaksanakan shalat shubuh. Sari terlihat tidak sabar ingin melihat keindahan alam puncak bukit Matang Kaladan.

Sari terlihat begitu menanti saat-saat keindahan alam itu muncul. Namun, tampaknya langit masih enggan menerbitkan seulas senyum jingga dengan semburat wangi paginya. Bersama kamera kesayangannya, Sari terus memandang langit. Bahkan panggilan ibunya untuk membantu menyiapkan makan pagi tak terdengar olehnya. Mungkin begitu fokusnya Sari untuk bersiap mengabadikan momen indah itu.

Tepat pukul 05.30 WITA langit pun menampakkan semburat kilau jingga dengan segaris senyum mentari yang pelan-pelan menampakkan senyum sempurnanya. Suara cekrek-cekrek pun terdengar dari kamera yang selalu dibawa Sari. Ya, pagi itu adalah pagi yang sempurna. Alam terlihat begitu berkilau oleh kemuning sinarnya, begitu hangat dari indahnya sinar terang sang mentari, serta udara bersih yang diam-diam membelai daun telinga. Sungguh sangat menyegarkan berada di sana.

Embun pagi tak kalah menyebarkan bau basahnya seolah menandakan hari baru telah dimulai. Kicauan burung bernyanyi memberi tanda agar diri bersiap memulai hari baru. Hari itu adalah hari yang indah. Alam seolah mengajak Sari bergabung dalam keindahan dan kegembiraan. Pagi adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu menyayangi kita dan harapan itu selalu ada. Jadi, janganlah menyerah dalam hidup ini.

Senyum Sari begitu merekah, dia tidak melewatkan momen-momen indah di sana. Setelah selesai sarapan, dengan riangnya dia meminta ayahnya mengambil foto dirinya di beberapa spot foto yang ada di sana. Bahkan dia meminta bantuan salah satu pendaki di sana mengambil foto keluarganya sebagai kenang-kenangan. Kenangan yang membuat mereka akan selalu merindukan puncak bukit Matang Kaladan dan ingin kembali ke sana.

Banyak orang yang bilang destinasi wisata bukit Matang Kaladan yang ada di daerah Sari merupakan surganya Borneo. Bahkan acap kali disebut sebagai Raja Ampatnya Borneo maupun Ha Long Baynya Borneo. Apapun itu, yang jelas kita sebagai masyarakat daerah wajib mensyukuri ciptaan Tuhan yang indah ini. Tak hanya menikmati keindahannya, tapi juga merawatnya agar kita tetap bisa menikmati pemandangan-pemandangan yang menakjubkan itu.

Puas mengabadikan momen-momen indah di sana, Sari dan keluarganya bersiap kembali ke rumah. Tidak lupa mereka membersihkan sisa-sisa makanan dan saling berpamitan dengan para pendaki. Perjalanan yang sungguh melelahkan tapi menyenangkan dan membahagiakan tentunya untuk mereka. Perjalanan pulang ini tak sesulit saat mendaki, tetapi terasa seperti perjalanan perpisahan. Sari tampak terus berbalik ke belakang disetiap langkah kakinya seolah tak ingin kembali ke rumah.

About the author

Zulfia Rizqimah

Add Comment

Click here to post a comment