Opinion

4 PAHLAWAN NASIONAL DARI KALIMANTAN SELATAN

Kalimantan Selatan merupakan salah satu Provinsi di tanah Borneo yang beribukota Banjarmasin. Hari jadi Kalimantan Selatan ialah pada tanggal 14 Agustus 1950 sesuai isi Surat Keputusan DPRD Provinsi Kalimantan Selatan pada 31 Mei 1989 silam.

Memiliki umur yang terbilang sudah tua, Kalimantan Selatan tentunya mengalami perkembangan yang pesat dari segi ekonomi, sosial, dan kesehatan serta pendidikan. 13 Kota/ Kabupaten menjadi bukti struktural Provinsi yang terkenal dengan jargon Waja Sampai Kaputing ini.

Ketika flashback kebelakang, banyak sekali tokoh dan masyarakat yang terlibat memperjuangkan Kalimantan Selatan hingga detik ini. Berikut 4 pahlawan nasional dari Provinsi Kalimantan Selatan :

  1. Pangeran Antasari

Siapa yang tidak kenal dengan sosok pangeran yang satu ini, nama dan gambarnya terpampang jelas di uang Bank Indonesia bernominal dua ribu. Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi dan wafat pada 11 Oktober 1862 merupakan seorang Sultan Banjar dan sekaligus pemimpin dalam perang Banjar untuk melawan colonial Belanda.

Nama kecilnya adalah Gusti Inu Kertapati, dari ibu Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman dan ayahnya bernama Pangeran Masohut bin Pangeran Amir. Ayahnya adalah cucu dari Sultan Muhammad Aluiddin Aminullah yang tidak dapat naik tahta pada 1785 karena diusir oleh Pangeran Nata, yang kemudian mengangkat dirinya menjadi Sultan Tahmidullah II dengan bantuan Belanda.

Perang Banjar pecah pada 25 April 1859 ketika Pangeran dan 300 orang prajurit menyerang tambang batu bara Belanda di Pengaron dan berlanjut di seluruh wilayah kerajaan Banjar seperti Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang Sungai Barito hingga ke Puruk Cahu. Beliau meninggal karena terkena penyakit paru – paru dan cacar pada usia 75 tahun sehingga perlawanan dilanjutkan oleh Muhammad Seman, putranya. Antasari diangkat sebagai pahlawan nasional pada 27 Maret 1968. Simak juga mengenai penyebab perang Banjarmasin, sejarah perang Banjar, pahlawan nasional dari Banten dan pahlawan nasional dari Riau.

  1. Brigjen Hasan Basri

Nama jalan di depan kampus ternama di Kalimantan yakni Universitas Lambung Mangkurat ini ternyata merupakan nama Pahlawan Nasional yang turut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Beliau lahir di Kandangan pada 17 Juni 1923 dan wafat di Jakarta tanggal 15 Juli 1984.

Brigjen Hasan Basri adalah seorang tokoh militer yang mendirikan Batalyon ALRI Divisi IV di Kalsel, dan sering disebut Bapak Gerilya Kaliamntan oleh Ketetapan DPRGR Tingkat II Hulu Sungai Selatan.

Ketika banyak anggota dari Laskar ditangkap Belanda, Hasan Basri membentuk Banteng Indonesia hingga mendirikan Batalyon ALRI. Walaupun hasil perjanjian Linggarjati dan Renville membuat Kalimantan berada di bawah kekuasaan Belanda, Hasan Basri tetap melanjutkan perjuangannya. Puncaknya, ia berhasil memproklamasikan kedudukan Kalimantan sebagai bagian dari RI pada 17 Mei 1949. ALRI kemudian dilebur ke dalam TNI AD Divisi Lambung Mangkurat dan ia diangkat sebagai Letnan

  1. Idham Chalid

Salah satu politisi Indonesia yang berpengaruh pada zamannya, Idham Chalid lahir di Satui, Kalsel pada 27 Agustus 1921 dan meninggal pada 11 Juli 2010 di Jakarta. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia di Kabinet Ali Sastroamidjojo dan di Kabinet Djuanda, Ketua MPR dan DPR pada 1972 – 1977, juga aktif dalam kegiatan keagamaan dan pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Nadhlatul Ulama sejak 1956 – 1984. Ia sudah aktif di PBNU sejak remaja dan pernah menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang Kalsel ketika NU masih menjadi bagian dari Masyumi.

Juga pernah menjadi anggota DPR RIS (1949 – 1950), Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (1952 – 1956) sebelum menjadi Ketua Umum NU pada 1956 dan merupakan orang terlama yang pernah menjabat sebagai ketua NU. Gelar pahlawan nasional dari Banjarmasin dianugerahkan oleh pemerintah pada 7 November 2011

  1. H Pangeran Muhammad Noor

Ir. H Pangeran Muhammad Noor juga dikenal sebagai mantan Menteri Pekerjaan Umum dan gubernur Kalimantan pada tahun 1901.  Namanya yang masih dikenang pada sebuah jalan, Ir H Pangeran Muhammad Noor ternyata juga merupakan cucu dari cucu Raja Banjar Sultan Adam al-Watsiq Billah dan tokoh banua lainnya seperti Prof Dr Ir H Gusti Muhammad Hatta, M.S (Bnr/ Nov).