Opinion

Ngobrolin Kritik yang Membangun dan Beretiket Global

OPINI – Suatu bencana hindari mengatakan azab di ruang publik (online maupun offline), walaupun adik-adik dan teman-teman memiliki keyakinan itu di keyakinan Agama yang teman anut. Tahukah #SobatDamai Mengapa ini penting?
Kritikan terbagi menjadi dua unsur berdirinya. Kritik yang memuat content dan bisa juga memuat context-nya. Ketika sesuatu dirasa kurang pas bagi pihak tertentu, dia terkadang memberikan kritik, namun yang membangun. Lalu apa sih kritik yang membangun (constructive) ini?

Baca Juga: Kritik: Antara Membangun atau Menyakiti

Nah, sudah membaca artikel tadi? Dalam kritik yang membangun tadi berada dalam Content. Intinya, dalam Content reframe atau kritik subtansi bertujuan membangun yang sifatnya membuat pihak yang kita tujukan agar diharapkan berkembang, namun berkembang yang dimaksud sesuai dengan dasar Ilmu pengetahuan (Basic Knowledge) atau Agama moderat (Moderation in Religion). Tidak lupa juga kita perlu juga peka dengan koridor Context. Apa saja context yang penting bagi para remaja saat inii?

Semangat Ketegasan dan kejelasan (assertivity) dalam bertindak dan merespon suatu hal perlu dikuasai oleh para remaja, ketika seorang perempuan “diinjak-dinjak” harga dirinya tidak mungkin kan hanya diam? Pastinya gadis tersebut akan melawan dengan perkataan-perkataannya diiringi perilaku yang sesuai kadar konteksnya. Hal lain, ketika Presiden kita “dianggap melakukan kesalahan” menurut kamu, tentunya kamu dan pihak lainnya berusaha bergerak mengkritik tindakan beliau, namun bagaimana kritik yang sesuai agar sejalan dengan konstruktif (membangun) dapat dipertimbangkan oleh Presiden tanpa kita melanggar hukum dan tanpa membuat kegaduhan lebih lanjut?

Mulai dengan mengumpulkan data-datanya apa saja yang dikatakan beliau dengan lengkap baik dari media video Youtube atau artikel-artikel berita, jadi jangan sepotong-potong ya sobat dalam mencari informasi. Kemudian, bungkus kritikan teman-teman dengan unsur Context sebelum dikirimkan ke media publik, dan terakhir kemukakan dengan cara netral tanpa emosi (teks tulisan juga memiliki unsur emosi lho), serta tanpa membuat makna ganda (non-multiple meaning).


Majority etiquette (kiri) vs Japanese etiquette (kanan) | jobandwork.asia

Context reframe menurut Hrexcellency.com yaitu “mengajak orang untuk melihat peristiwa yang terjadi dari sudut pandang waktu/situasi yang berbeda. Misalkan, saat ini memang peristiwanya kelihatan tidak menyenangkan, namun, ada kemungkinan bahwa di lain waktu, sesuatu yang tampak tidak menyenangkan itu menjadi berguna.”

Apa saja sih hal yang berguna mungkin terjadi di situasi/waktu/tempat yang lain? Seperti unsur Lintas-budaya dalam Negeri dan Lintas-Budaya Global, ketika pertemuan (Greeting) orang Jepang dan orang Indonesia tentu beda salamnya, ada yang mengulurkan jabat tangan, ada yang menundukan kepala, nah itu sebagai metafora saja. Jadi, Etiket (kesopanan) dapat diartikan berbeda ketika ada context yang berbeda. So! #SobatDamai berikanlah kritik yang membangun tanpa makna ganda dan perhatikan unsur situasinya ya.

 

(SRH/IAN)

source: nlpworld.co.uk