Uncategorized

Menjadi Remaja Berbeda

Berjalan kaki tanpa alas sebagai pelindung juga menjadikan kita lebih terkoneksi atau terhubung dengan alam dan bertelanjang kaki (barefoot) juga dapat mengalirkan ion negatif dari bumi yang selama ini terhalang oleh penggunaan alas kaki. Ion negatif ini berfungsi untuk menstabilkan tubuh kita yang menyerap ion positif dari langit.

“Kenapa sih Sar kamu memilih liburan mendaki bukit Matang Kaladan? Gak takut hitam, kotor, dan lelah apa? Kamu kan perempuan, biasanya nih perempuan lebih suka tempat yang ber AC daripada panas-panasan begitu,” ucap Evan.

Begitu banyak alasan mengapa alam harus selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia karena pada kenyataannya memang manusia dan alam bagai mawar dengan aromanya yang sama sekali tidak bisa terpisahkan. Terlepas dari alasan itu semua sebenarnya hal yang membuat Sari begitu terikat dengan alam adalah karena alam merupakan tempat yang paling tenang suasananya.

“Aku cuman ingin mendapatkan ketenangan, Van. Sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota dan tempat itu adalah bukit.”

“Memangnya kamu pengen tenang kenapa? Bukannya waktu itu kamu bilang, kalau curhat ke orang tua membuatmu sedikit lebih nyaman dibandingkan curhat ke kita?”

“Iya tapi pikiran negatif-negatif di kepalaku perlu di refresh biar gak kusut kaya pita kaset.”

“Memangnya sekarang masih zaman pake kaset?”

(Mereka berdua sontak tertawa)

Ketenangan begitu penting bagi diri Sari sebagai manusia karena ketika jiwa kita tenang otomatis pikiran pun menjadi jernih dan dari pikiran yang jernih tentu akan menghasilkan sikap yang baik sebagai tujuannya utamanya. Agak aneh memang anak usia remaja awal seperti Sari sudah memikirkan makna kehidupan. Memikirkan betapa pentingnya membangun koneksi yang kuat dengan orang tua (manusia) dan alam agar terbentuk keseimbangan dalam hidup.

Aneh bagi orang tapi tidak bagi Sari karena dia merasa usia remaja merupakan usia yang masuk dalam kategori generasi Z (zhi) yang berarti tanggung jawab untuk kehidupan selanjutnya ada ditangan mereka sebagai generasi penerus. Jika mereka sebagai generasi penerus tidak melakukan perubahan dalam hal menjaga keseimbangan alam lalu apa yang dapat mereka lakukan atau tinggalkan untuk diri mereka sendiri dan generasi selanjutnya.

Atas dasar pemikiran itu terkadang membuat orang lain menganggap dia anak remaja yang berbeda. Itulah kebiasaan di Indonesia, jika kita tidak bisa mengikuti arus yang ada, maka kita akan selalu dianggap berbeda. Padahal berbeda bukan berarti salah, tertinggal, maupun lemah. Karena dunia ini rasanya pasti akan sangat membosankan kalau hanya diisi dengan keseragaman bukan keberagaman. Sesuatu akan terlihat indah atau terlihat menonjol jika berbeda dari lainnya seperti pelangi, yang terlihat begitu menawan karena tujuh warna yang berbeda.

Remaja memang kerap kali dianggap sebagai manusia dengan pemikiran yang idealis. Tapi hal tersebut bukan berarti menjadi sebuah alasan generasi sekarang dan generasi terdahulu mendikte mereka sebagai seseorang yang akan gagal di masa mendatang karena idealisme itu penting sebagai dasar untuk menemukan realisme atau kenyataan. Bagaimana seseorang bisa memahami sebuah realisme kehidupan jika di dalam pikirannya sendiri tidak ada konsep kehidupan yang ideal. (ZULFIA/DEL)

About the author

Ratna Lindawati

Add Comment

Click here to post a comment