MENGUNGKAP KACA MATA YANG BERBEDA DARI BUDAYA PATRIARKI!

Kesetaraan gender adalah bahasan topik yang selalu hangat di masyarakat. Topik ini tidak seperti kasus polisi yang identitasnya lebur sebagai pembunuh karena manipulasi pernyataan pengacara yang kasusnya sudah jarang mencuat di media karena ditutupi oleh kasus KDRT Sang Bintang Kejora. Tetapi kesetaraan gender adalah kasus yang tiap kali selalu muncul di media sosial. Pelecehan, penghakiman, kontruksi sosial yang merugikan, dan kasus KDRT yang sekarang sedang panas-panasnya di seluruh stasiun televisi dan media sosial. Korban yang dirugikan tidak lain dan tidak bukan didominasi oleh perempuan.

Masyarakat sering menyebutnya karena pengaruh dari budaya patriarki. Entah benar atau salah suatu keadaan, perempuanlah objek utama yang selalu dirugikan. Pelecehan yang marak terjadi di pelosok daerah. Perempuan yang dirusak, dirugikan, merasakan malu, tetapi perempuan pula yang disalahkan karena berpakaian yang terlalu terbuka. Inilah “katanya” pengaruh dari budaya patriarki. Lalu bagaimana mungkin, budaya patriarki tetap ada sampai saat ini jika dampaknya seburuk ini? Bukankah hakikat budaya sangat sulit dihilangkan bahkan sangat melekat di masyarakat? Apakah benar maksud dari budaya patriarki seperti ini?

Menurut KBBI, budaya patriarki adalah budaya yang mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Maka dalam definisi tersebut dapat kita telaah bersama, bahwa budaya yang selama ini dianut oleh sebagian masyarakat adalah budaya yang mengandalkan sosok laki-laki sebagai pendominasi peran di lingkup sosial, keluarga, dan masyarakat. Bukankah jika merujuk pada hal ini, tentang kerugian, kekerasan, dan kontruksi sosial bahwa wanita itu lemah bukan bagian dari lingkup patriarki?

Maka di sini saya membatasi definisi dan perihal tersebut dalam konteks yang berbeda. Budaya patriarki adalah budaya yang dalam stigma masyarakat, laki-laki merupakan sosok yang cocok menjadi seorang pemimpin dan mendominasi segala aspek kehidupan. Hal ini bukan berarti menghilangkan peran seorang perempuan, peran perempuan juga penting dan harus ada, tetapi tidak terlalu mendominasi. Karena bukankah dalam keluarga yang nantinya jadi sosok kepala keluarga adalah laki-laki? Karena bukankah sosok yang nanti harus lebih bekerja keras dan bertanggung jawab adalah laki-laki? Dan bahkan dalam perspektif agama, sosok laki-lakilah yang akan dimintai pertanggung jawaban akan istri dan anak-anaknya. Lalu bukankah wajar, jika budaya patriarki ini dianut oleh sebagian masyarakat tertentu karena memang sudah menjadi kodratnya seperti itu?

Lalu beranjak dari konteks lainnya, yakni tentang perempuan yang dirugikan, dilecehkan, dituding, dan dihinakan. Saya mengambil lingkup ini dengan budaya yang lain, yakni budaya misogini. Budaya misogini adalah budaya yang membenci akan adanya perempuan, hingga hal ini diwujudkan dengan perilaku diskriminasi seksual, fitnah perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan objektifikasi seksual perempuan. Karena itu, gerakan feminisme ada, karena faktor suara perempuan di Inggris tidak didengarkan dalam lingkup politik. Maka terbentuklah suatu gerakan feminisme yang sampai saat ini dipergunakan bahkan dijadikan sebuah teori sastra feminisme yang di dalamnya menganut sistem membaca karya dengan memandang tokoh perempuan di dalamnya, entah itu menjadi pelemahan gerakan feminisme ataupun menjadi penguat gerakan feminisme.

Lalu apakah budaya patriarki memengaruhi budaya misogini?

Jika ditanya seperti ini, maka jawaban saya adalah memengaruhi. Hal ini juga didasari dengan banyaknya fenomena yang sudah tidak asing lagi. Laki-laki yang merasa lebih mendominasi karena tuntutan dari budaya patriarki, merasa dirinya lebih hebat, lebih kuat, dan lebih dalam segala aspek. Hal tersebut yang memicu penghinaan atau perendahan kepada sosok perempuan karena menganggap bahwa perempuan itu jauh di bawahnya. Inilah yang menjadi faktor banyaknya perempuan zaman sekarang tidak ingin masuk dan terjerembab ke dalam budaya patriarki. Mereka ingin dirinya memiliki derajat yang sama dan peran yang sama dengan seorang laki-laki.

Tetapi bukan berarti budaya patriarki merugikan. Karena hal tersebut kembali lagi kepada oknum-oknum tertentu, dan tidak semua laki-laki seperti itu bukan? Kita juga bisa memandang dari sudut kaca mata yang berbeda, budaya patriarki ada karena memang sebagian besar masyarakat mengimplementasikan hal tersebut, dan banyak dari mereka yang memiliki kehidupan yang tentram karena mengetahui porsi masing-masing peran. Budaya patriarki juga bisa kita ambil makna dalam menghargai dan memuliakan seorang perempuan. Perempuan dibiarkan untuk tidak bekerja lebih keras, tidak memikul beban lebih banyak, karena dalam segi fisik, memang perempuan lebih lemah dari seorang laki-laki. Selain itu, perempuan juga adalah ibu ataupun calon ibu, budaya ini lebih ingin perempuan fokus dalam mendidik dan merawat keluarganya. Jika kita berpikir seperti ini, bukankah lebih mewajari mengapa budaya patriarki tetap lekat di kehidupan kita selama ini?

Terlepas dari budaya patriarki ataupun budaya misogini, kita sebagai manusia bukankah memang seharusnya memiliki rasa kemanusiaan? Bukan tentang banyaknya peran yang diambil, atau kekuasaan dan kehebatan yang lebih banyak, tetapi tentang kemanusiaan. Bukankah berbuat baik dan tidak menyakiti seseorang merupakan tujuan utama dari ideologi kemanusiaan? Bukankah ketika seseorang menerima dan menghargai, entah dalam segi sosial ataupun kepemimpinan, hidup akan lebih tentram? Terlepas dari berkuasa atau tidaknya perempuan, perempuan tetap tidak pantas untuk diperlakukan secara tidak adil. Karena itu, perlu kesadaran kuat bagi kaum laki-laki dan perempuan untuk memaknai peran mereka agar tidak menjadi pergunjingan publik. Perempuan berhak menjadi seorang pemimpin dan laki-laki juga berhak mendominasi di lingkup keluarga dan sosial. (DANK/IAN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *