free page hit counter

KADO UNTUK PUTRI SANG MAFIA

“Akhirnya semua acaranya berjalan dengan lancar dan putri kecil papa ini senang gembira.” ucap Diego sambil mengusap dan mencium lembut kepala Arianna.

“Terima kasih ya pa, ma…Arianna sangatlah senang.” ucap Arianna kesenangan sambil memeluk kedua orang tuanya itu.

Suasana di mobil malam itu sangatlah menyenangkan terutama bagi Arianna yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke delapan. Tak terasa putri kecil yang memiliki senyum manis bak gulali itu sudah mulai tumbuh besar sekarang. Hal-hal baik yang diciptakan Diego selalu berhasil membuat Arianna sumringah seperti halnya diri Arianna yang juga seperti itu bagi Diego.

Dan yang paling penting, hari itu juga menjadi pengingat Diego  bahwa sudah setahun dia memberikan kehidupan yang penuh kebohongan untuk Arianna mengenai sosok ibunya.

Entah di ulang tahun Arianna ke berapa dirinya mampu mengungkapkan keadaan ibunya yang sebenarnya dan siapa sosok Yvonne kepada putrinya itu. Namun, Diego hanya berharap ketika hal itu terjadi, Arianna benar-benar telah siap menerima kenyataan itu.

“Kau ingin tidur sayang?” tanya Yvonne pada Arianna sambil menawarkan bahunya agar dia bisa bersandar di sana.

Arianna terlihat mulai mengantuk, mungkin kelelahan dengan acara ulang tahun yang sangatlah meriah dan dihadiri banyak teman-teman, keluarga serta anak-anak panti asuhan.

Acara ulang tahun Arianna memang selalu dirayakan dengan meriah setiap tahunnya dan tak lupa anak-anak panti asuhan selalu menjadi prioritas tamu undangannya.

Anak-anak panti asuhan merupakan daftar tamu undangan yang wajib berada di list pertama. Hal yang selalu Diego dan Fionne lakukan sebagai wujud syukur dan berharap dengan mengundang anak-anak panti, Arianna akan menjadi sosok perempuan yang lebih bersyukur akan hidupnya serta selalu memiliki rasa simpati dan empati terhadap orang lain yang memiliki nasib tak seberuntung dirinya.

Perjalanan pulang dari restoran menuju mainsion terasa begitu menenangkan seperti telah melewati hari yang begitu menyenangkan. Cahaya lampu jalan yang remang-remang menambah ketenangan tersendiri bagi hati yang teramat hepi untuk Arianna. Karena hal yang sama mungkin tak dirasakan oleh Diego dan Yvonne.

Jika Diego mulai berpikir jauh ke belakang mengenai hal-hal apa saja yang telah dia lakukan hingga sekarang, Yvonne justru merasa sangat berterima kasih kepada Tuhan karena hingga saat ini dirinya masih bisa merasakan kebahagiaan.

Meskipun dalam lubuk hati kecilnya yang paling dalam, kebahagiaan yang dia dapatkan kini tidaklah utuh. Dia merasa memerlukan sosok lain untuk melengkapinya, yaitu keluarganya.

“Diego…terima kasih ya untuk hari ini.” ucap Yvonne lirih.

“Harusnya aku yang berterima kasih padamu, Yvonne.”

Malam itu Diego dan Yvonne tampak asyik dengan pemikiran masing-masing mengenai hal-hal yang telah mereka alami dan lalui. Mereka memang diam namun, pikiran mereka jauh keluar menembus cakrawala. Apapun yang mereka pikirkan malam itu, tetaplah tak ada yang mampu mengubah keadaan yang mereka jalani sekarang.

Mereka hanya bisa percaya dan belajar ikhlas dengan semua keadaan yang ada dan berani berharap bahwa Tuhan akan merencanakan kebahagiaan untuk semuanya.

“Maaf boss dan madam.” ucap Fabian sambil memutar sebuah lagu.

Musik yang diputar Fabian nampaknya memecahkan lamunan Diego dan Yvonne. Sebuah lagu dari Bobby Darin yang berjudul “Beyond the Sea” telah menemani perjalanan mereka. Sebuah lagu romantis yang sangat cocok untuk pasangan yang sedang melakukan hubungan jarak jauh atau LDR.

Entah apa maksud Fabian menyetel lagu tersebut, apa mungkin dirinya sedang mengalami hal itu? Atau sebaliknya, dia ingin menenangkan hati dua orang di dalam mobil yang kini merasa sedang merindu orang-orang yang berada jauh dengan dirinya. Apapun maksudnya, yang jelas alunan lagu tersebut mampu membuat hati keduanya melting (meleleh).

***

Mobil sedan mereka kini tengah terparkir rapi tepat di depan gerbang mansion Diego. Tanpa tanda dan aba-aba, Arianna langsung saja terbangun dan mereka dengan cepat beranjak dari kursi mobil yang sejak tadi membuat mereka terbang melayang memikirkan hal-hal yang tak bisa mereka kendalikan.

“Jangan lupa ganti pakaian, cuci kaki dan tanganmu serta yang paling penting berdoa dulu sebelum tidur.” ucap Yvonne pada Arianna yang hendak masuk kamar tidurnya.

“Iya ma…siap.” ucap Arianna dalam keadaan masih mengantuk.

Arianna bukan lagi putri kecil yang harus dibantu ini itu. Arianna sudah tumbuh menjadi perempuan yang mandiri. Yvonne hanya cukup memberinya perintah maupun nasihat dan dengan sigap Arianna akan melakukannya dengan senang hati.

Dari kecil Arianna memang telah dididik mandiri oleh Diego dan Fionne. Meski dia anak perempuan, tak menjadikan Diego dan Fionne memberikan keistimewaan pada diri Arianna justru sebaliknya. Mereka mendidik Arianna menjadi sosok perempuan yang mandiri bahkan cenderung keras untuk seusianya.

Karena Diego dan Fionne sadar bahwa kehidupan di dunia ini begitu keras. Bukan seperti dongeng yang tinggal nyanyi-nyanyi, terus sepatu hilang, dan ketemu pangeran lalu hidup happily ever after.

Melainkan kehidupan sebenarnya tidaklah semudah itu. Terutama sebagai perempuan, harus mandiri jangan tergantung pada laki-laki ataupun orang tua. Karena baik Diego maupun Fionne tidak akan pernah tahu kalau mereka akan selalu ada atau tidak.

Prinsip itulah yang selalu Diego dan Fionne tanamkan sebagai orang tua kepada Arianna meski sepertinya kali ini Diego melanggar prinsip tersebut.

Menyusul Arianna, Diego dan Yvonne pun juga ingin masuk ke kamar mereka. Meski Diego dan Yvonne masuk ke kamar yang sama namun, mereka tidur secara terpisah.

Akting mereka memang sangatlah totalitas tanpa batas. Semuanya sudah disetting Diego dengan sempurna mulai dari hal kecil bahkan dari hal yang paling mustahil sekalipun. Diego hanya tak ingin kebohongan yang dia bangun akan hancur seketika hanya karena sebuah kesalahan atau kelalaian yang amat kecil.

Awalnya Yvonne merasa risih dan takut berada satu kamar bersama Diego sang boss mafia. Namun, lambat laun seiring berjalannya waktu, Yvonne mulai terbiasa dengan semua keadaan itu.

Mulai dari suasana kamar yang begitu aromatik karena Diego sangatlah menyukainya hingga dirinya yang terpaksa tidur di sofa kamar awalnya. Namun perlahan semuanya berubah, Diego kini mengizinkan Yvonne tidur di tempat tidurnya dulu bersama Fionne dan terkadang Diego yang mengalah untuk tidur di sofa atau di kamar tamu.

Sikap baik dan tulus Yvonne nampaknya telah meluluhkan hati Diego yang dinginnya mengalahkan gunung es puncak Jaya Wijaya di Papua. Sedingin apapun hati seseorang, pada akhirnya akan luluh juga dengan kelembutan dan ketulusan yang setiap hari Yvonne berikan.

Meskipun seiring dengan luluhnya hati Diego yang begitu dingin itu juga membuat ketakutan tersendiri bagi dirinya sendiri. Dia takut jika semakin hari hati dan perasaannya tidak mampu dia kendalikan lagi yang artinya dirinya akan terikat dengan Yvonne.

Diego sangat paham jika tak ada seorang pun yang mengetahui  tentang takdir, yang hadir bisa saja tersingkir, yang berjanji bisa saja ingkar. Namun, jika perasaannya tak dia kendalikan, ikatan cinta bisa saja muncul dalam hati Diego. Niat dirinya pada Yvonne yang hanya menjadikan perempuan itu sebagai sosok dalam permainan cinta yang dia buat, bisa saja menjadi hal yang akan menghancurkannya kelak.

Langkah mereka terhenti ketika Arianna tiba-tiba saja memanggil mereka.

“Papa…mama…kalian melupakan sesuatu hari ini.” ucap Arianna dengan tatapan tajam.

“Lupa? Soal apa ya?” ucap Diego dan Yvonne secara bersamaan saling berpandangan kebingungan.

Arianna langsung menghampiri Diego dan Yvonne yang masih berada di ruang tamu karena mendengar panggilan Arianna. Arianna rupanya menagih kado spesial dari papa dan mamanya yang belum dia dapatkan.

Di kamarnya, hanya ada setumpuk kado dari teman-teman dan keluarganya yang lain, sementara kado spesial dari orang tuanya belum ada di tangannya.

“Kalian belum memberikan kado spesialnya untukku.”

“Kado spesial papa dan mama sudah ada bersama tumpukan kado-kado lain di kamar Arianna.” ucap Diego memperjelas pertanyaan Arianna.

Namun tampaknya, kado spesial yang Arianna maksud bukanlah kado yang berada dalam tumpukan kado lain yang belum dibuka di kamarnya itu. Melainkan ada kado lain yang diinginkan oleh Arianna.

“Bukan itu pa…tapi janji papa yang akan mengajak Arianna ke Roma sebagai kado spesial di ulang tahun yang kedelapan.” ucap Arianna mencoba mengingatkan.

“Benarkah?” ucap Diego berlagak lupa dengan janjinya itu.

Arianna memang dijanjikan oleh Diego akan diberikan kado spesial di ulang tahunnya yang kedelapan, yaitu perjalanan ke Roma bersama yang mana kado spesial tersebut sebenarnya Arianna dapatkan tak lepas dari andil Yvonne yang terus mengomporinya.

Rupanya trik jitu yang diluncurkan Yvonne pada Arianna cukup berhasil membuat anak itu meminta sesuatu yang sebenarnya hal yang paling diinginkan oleh Yvonne.

Yvonne memiliki rencana yang terselubung dibalik triknya itu. Sebuah rencana besar yang dia bungkus serapi mungkin hingga Diego tak menyadarinya. Apapun rencana Yvonne kali ini, yang jelas tentu saja takkan menimbulkan musibah atau bencana bagi Arianna dan dirinya meski mungkin berbanding terbalik bagi Diego.

“Benar juga, kamu pernah menjanjikan hal itu pada Arianna. Aku masih menyimpan buktinya, kalau kamu lupa.” ucap Yvonne sambil mengecek rekaman suara yang ada di handphonenya.

Rekaman suara percakapan antara Diego dengan Arianna yang berisi tentang Diego yang membuat janji kepada Arianna untuk mengajaknya pergi ke Roma terdengar begitu jelas. Diego yang mendengar rekaman suara yang diputar Yvonne pasrah. Dirinya hanya kaget tidak menyangka dan pastinya dirinya tak bisa berkelit lagi.

“Tuhkan benar pa…, papa pernah membuat janji seperti itu.”

“Ya…baiklah papa sepertinya memang lupa. Sebagai papa yang baik, papa akan memenuhi janji itu. Besok lusa, kita akan pergi ke Roma bersama-sama.” ucap Diego mengiyakan tanpa bisa menghindar lagi.

Arianna dan Yvonne pun melakukan tos bersama sebagai wujud perayaan atas kemenangan mereka memenuhi keinginan mereka, yang lebih tepatnya keinginan Yvonne.

“Yes…” ucap Arianna dan Yvonne bersama-sama dengan nada dan senyum senang serta perasaan penuh kepuasan.

Sementara Diego yang menyaksikan pemandangan dua perempuan di depannya hanya bisa geleng-geleng kepala. Melihat kelakuan Arianna dan Yvonne membuat Diego tak habis pikir, terutama Yvonne. Diego benar-benar tak menyangka perempuan yang dia jadikan sebagai pengganti istrinya itu bisa-bisanya merekam percakapan dirinya dengan Arianna. Hal itu menjadi warning tersendiri untuk Diego agar berhati-hati pada Yvonne yang ternyata tak bisa dianggap remeh.

Pembicaraan serius bercampur riuh kegembiraan di ruang tamu malam itu berakhir saat Arianna kembali ke kamarnya yang kali ini tak akan kembali keluar lagi. Hal yang sama juga dilakukan Diego dan Yvonne. Mereka juga beranjak menuju kamar tidur yang sedari tadi sudah ingin mereka kunjungi.

Di ruangan dan keadaan berbeda nampaknya tengah menyelimuti Arianna dan Yvonne. Jika Arianna akan bermimpi indah memikirkan suasana indah saat di Roma nanti, berbeda halnya dengan Yvonne. Sebelum tidur, Yvonne justru mendapati sebuah kenyataan yang akan mematahkan impiannya saat di Roma nanti.

“Saat di Roma nanti, kamu tidak boleh menemui keluargamu apapun alasannya.” ucap Diego dengan santai namun menunjukkan nada tegas.

Yvonne hanya terdiam, dia tersadar bahwa sepertinya rencana besar yang dia susun telah diketahui oleh sang bos mafia itu.

“Aku tidak akan menemui mereka Diego, kamu bisa tenang. Tapi bolehkah jika aku hanya melihat mereka dari kejauhan secara sembunyi-sembunyi? Waktu satu tahun tidaklah singkat bagiku.” ucap Yvonne dengan nada memohon.

Mendengar permintaan Yvonne, hati kecil Diego mulai luluh dan tergerak. Perempuan yang selama ini dia manfaatkan tidak pernah meminta hal apapun padanya bahkan untuk hal kecil sekalipun. Dan kali ini dengan nada memohon, Yvonne meminta hal yang sebenarnya memang miliknya tapi karena dirinya, Yvonne harus merelakan semuanya.

Rasanya sungguh keji dan amat jahat jika Diego tak mengizinkan Yvonne melakukan permintaannya itu sedangkan Diego sendiri tahu, bahwa kepergian mereka ke Roma sendiri merupakan usaha keras dari Yvonne sendiri.

Meski Diego seorang bos mafia, dirinya tentu masih memiliki hati dan sisi yang baik apalagi untuk perempuan seperti Yvonne yang begitu tulus memberikan cinta dan kasihnya untuk keluarganya terutama untuk Arianna putri kecil kesayangannya itu.

“Iya boleh, tapi perlu kamu ingat saya hanya mengizinkan kamu melihat mereka bukan menemuinya.”

“Terima kasih Diego. Kamu bisa pegang janji saya.”

Semenjak Yvonne menjadi istri pengganti untuk Diego, keluarganya sengaja dikirim ke Roma agar keluarga Yvonne tak ada yang tahu mengenai rencana yang dibuat oleh Diego. Sementara Yvonne setuju saja karena dia tak ingin ada korban lagi dalam keluarganya.

***

Perjalanan menggunakan sedan antik akhir-akhir ini selalu menyenangkan. Jika kemarin pergi dalam rangka perayaan ulang tahun, kali ini mereka diantarkan menuju tempat impian semuanya kecuali Diego.

Perjalanan menuju bandara tampak sangatlah menyenangkan. Arianna dan Yvonne melantunkan lagu-lagu riang gembira tak seperti malam saat mereka pulang dari restoran.

Kini mereka telah berada di bandara Napoli. Bandara yang terkenal paling sibuk dan terbaik dalam hal infrastruktur di dunia karena arus pelancong yang konstan. Bukan hanya itu, bandara yang terletak di kota terbesar di selatan Italia ini juga terkenal memiliki banyak nilai sejarah dan seninya, meskipun banyak juga orang-orang yang enggan ke sana karena tingkat kriminalitasnya yang tinggi.

Deru suara pesawat terdengar, yang menandakan bahwa keluarga tersebut kini telah berada di angkasa sana menuju kota Roma yang merupakan kota abadi di dunia.  (ZR/IAN)

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *