Opinion

Dimanakah ‘Aman’ Itu?

Tidak pernah terbayang olehku akan menjadi satu dari bagian perempuan-perempuan yang merasakan ketidakadilan akan tidak amannya berada di dunia ini. Ku pikir dengan membuat diriku berada pada lingkungan yang ‘aman’, memilah-milih teman-teman yang aku dekati, tidak berusaha terjun ke dunia yang lebih liar, akan membuatku terhindar menjadi korban. Tapi, sampai akhirnya aku menulis ini, artinya aku telah menjadi korban, bergabung bersama perempuan-perempuan diatas.

Dia, sosok yang dipandang banyak orang sebagai sosok yang bijaksana, teman-temanku menyukai bergaul dengannya. Sebagai teman, ia menyenangkan. Sebagai laki-laki ternyata dia cukup kurang ajar. Aku berteman dengannya sudah sekitar 2,5 tahun lebih, tetapi karena kuliah dionlinekan, aku hanya intens berteman secara real life dengannya sekitar 7 bulan lebih, sisanya kami hanya saling berkontak melalui sosial media, itupun jarang sekali. Hal itu membuat aku merasa cukup sulit kembali ke situasi pertemanan kami yang menyenangkan, aku canggung dengannya.

Kami bertemu kembali saat acara ulang tahun kampus, kemudian karena satu dan lain hal, kami harus pergi ke suatu tempat dan aku ikut motornya. Percakapan kami menyenangkan, tapi aku tetap canggung, sesekali ku lepas tanganku yang berpegangan di pinggang bajunya, aku sudah izin kepadanya untuk berpegangan karena perjalanan kami cukup jauh. Sejak itu aku pikir hubungan kami akan lebih baik, maksudku lebih menyenangkan seperti sebelumnya.

Beberapa pertemuan setelahnya, kami sedang berada dalam acara formal, sebagai sesama rekan organisasi. Kebiasaanku, aku selalu malas bicara jika aku sedang hadir dalam acara sebagai penggiat organisasi, terlebih aku hanya sendirian mewakili organisasiku. Aku dan dia tidak banyak berbicara, hanya sesekali berinteraksi, yang kupikir dia lebih hangat bersama yang lain dan aku sibuk dengan ponselku sendiri.

Semuanya baik-baik saja sampai ketika aku ingin pulang lebih dahulu dari acara yang baru saja selesai itu. Aku berpamitan dengan rekan-rekan yang membuat acara, pun tamu undangan lain yang ku kenal. Aku tentu berpamitan dengan dia. Dia sedang bersama teman kami yang lain. Aku datangi mereka dan melayangkan kepal tos untuk berpamitan. Tidak ada yang salah, hingga akhirnya mengucur sebuah pertanyaan darinya yang membuat aku benar-benar kaget.

Dia bilang, “Peluk kah D?” (dalam bahasa daerah kami). Aku yang awalnya sudah berjalan melewati mereka, tersentak lalu berbalik dan bilang, “Hah, apa?”. Anehnya, tanpa ragu ia ulangi kembali dengan tangan tetap merentang terbuka seakan siap memeluk, “Peluk kah D?”. Sekali lagi aku terkejut, pun teman kami yang ada disana juga terkejut. Dengan refleks ku respon, “Gak lah!” dan respon darinya setelahnya ialah kekecewaan dibalut candaan.

Setelah kejadian itu, malamnya aku menangis dengan sesak. Mungkin kamu yang membaca ini akan bingung mengapa aku harus menangis, mungkin ketika kamu baca paragraf diatas kamu pikir hal yang dia lakukan padaku adalah hal manis dalam konteks romance. Sayangnya, yang kurasakan dari situasi itu bukanlah itu, aku merasa direndahkan dan dilecehkan. Dianggap murahan hingga aku bertanya-tanya sendiri, “Apakah dia pikir aku segampang itu untuk dipeluk-peluk sembarang lelaki hanya karena kami berteman?!”

Nyatanya, aku bukan individu seperti itu. Aku bukan wanita murah yang bisa dipeluk sana-sini. Aku pikir dia tau betul bagaimana cara pertemananku, sedekat-dekatnya aku dan teman laki-laki, aku tidak pernah berkontak fisik seintim itu, lantas dia si bijak yang dibangga-banggakan, mengapa berani menanyakan hal seperti itu?

Mungkin sebagian dari kamu yang membaca ini akan menganggap aku berlebihan, dulu aku juga begitu saat mendengar cerita perempuan yang merasa dilecehkan karena dipanggil namanya. Namun ketika kamu berada diposisi sebagai korban, kamu akan tau bahwa itu bukan hal yang berlebihan. Hal itu akan menghantuimu terus menerus, masuk ke pikiranmu, masuk ke mimpimu, membuatmu menangis karena tidak menemukan jawaban mengapa kamu pantas menerima perlakuan seperti itu.

Dari sejak itu, sudah 10 hari berlalu. Aku masih merasa aku sehina itu dan aku tidak berani bertemu dengannya, padahal seminggu lagi aku harus menghadiri acara pelantikannya. Untuknya, inginku ucapkan bahwa…

 

Dia…

 

 

…brengsek.

 

 

02:17 AM

Banjarbaru, 18 Januari 2022

 

(DEL/IAN)

About the author

Adelia Septianingrum Marpaung

Add Comment

Click here to post a comment