free page hit counter

Bapukung

Tradisi bapukung adalah sebuah warisan dari suku Banjar yang telah diwariskan sejak zaman nenek moyang. Ketika seorang anak rewel, kelelahan, atau mengalami sakit perut serta menangis dengan terus-menerus, tradisi ini menyediakan cara yang lembut untuk membantu mereka merasa nyaman. Caranya adalah dengan memasukkan anak ke dalam ayunan, duduk dengan disangga bagian lehernya menggunakan tapih (kain bawahan), dan anak dapat tidur dengan tenang selama 1-2 jam.

Tradisi ini diterapkan untuk anak usia 2-9 bulan. Saat mengayunkan anak, orang tua juga mengiringi dengan nyanyian yang berisi doa dan harapan agar sang anak dapat tidur dengan damai. Namun, kini tradisi bapukung semakin jarang dilakukan, hanya oleh mereka yang sangat berpengalaman dalam melakukannya. Semoga tradisi ini tetap dijaga dengan kearifan dan kelembutan yang telah melekat padanya.

Sekilas cara menidurkan ini tampak membahayakan, namun bagaimanakah pandangan sains terhadap tradisi ini? Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada Ibu Lely Salmita, M.Pd berkaitan dengan pandangan sains dalam Science and Local Wisdom Journal, ”Bapukung adalah cara menggendong bayi dengan posisi punggung bayi sedikit lebih rendah daripada posisi lututnya, dengan mengikatkan di bagian leher. Dalam posisi ini, bayi cenderung tidur lebih lama. Selain itu, posisi ini aman dan baik untuk pertumbuhan bayi, karena tidur yang cukup sangat penting bagi mereka. Pada usia 3-12 bulan, tulang bayi masih belum sepenuhnya matang, namun dengan bapukung, bayi akan tetap aman dan nyaman dalam posisi tersebut.”

Ternyata meskipun terlihat menyeramkan bapukung memiliki beberapa manfaat tersendiri dibandingkan dengan menidurkan bayi ditempat biasa ataupun dibedong. Tradisi khas banjar ini layak untuk dilestarikan mengingat memiliki manfaat bagi bayi itu sendiri. (AR/IAN)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *