Opinion

Kita direndahkan? 6 Tips Resolusi Konflik dikala Puasa Ramadhan

OPINI-Bukan hanya di bulan puasa Ramadhan, tetapi juga di bulan lainnya, sudah saatnya kita mampu mengendalikan diri secara perilaku dan emosi walaupun sedang direndahkan. Tidak hanya untuk kepentingan individu/pribadi tetapi juga untuk kepentingan bersama.

Dalam lingkungan kerja pernahkah Anda dihina, direndahkan, atau dibullying rekan kerja Anda, atau bahkan atasan Anda? Bagaimana jika dikala Bulan Ramadhan dan sesudah Hari Fitri ini kita sering mengalaminya? Kita akan belajar mengendalikannya untuk 2 tujuan yaitu manajemen konflik yang damai (The Peacefully Conflict Management) untuk dampak pribadi, dan juga untuk Tim.

Secara etimologis kata, “Direndahkan” mengambil makna dari tesaurus/persamaan kata dasar “Hina” dalam KBBI online[i] yang berarti “rendah kedudukannya”. Ungkapan “Saya direndahkan oleh orang itu”, “Saya dihina oleh orang itu”, “Saya dibullying oleh orang itu” yang akan kita bahas memiliki konteks yang sama yaitu “Merendahkan pihak lain”.

Sebagai salah satu contoh, salah seorang karyawan bekerja seperti biasa di Bulan Ramadhan, yaitu kunjungan ke beberapa outlet untuk menemuni para bos, dan meminta tanda tangan. Karyawan itu sesegera mungkin meminta tanda-tangan bos terakhir karena sudah selesai dengan pekerjaan kunjungannya yang lain. Namun bos tersebut merasa betah ada tamu dan tidak ingin  terlalu cepat memberikan tanda-tangan. Maka terjadilah suatu konflik yang dimulai diantara kedua belah pihak. Pada  hari-hari berikutnya mereka saling merasa tidak nyaman dalam hubungan kerjanya di setiap pertemuan. Bahkan bos selalu ‘ngebully’ karyawan tersebut saat bertemu dengan mengatakan hal-hal yang terkesan ‘menghina’ karyawan tersebut. Karyawan tidak merespon apa-apa sampai pada akhirnya mereka saling berbaikan dan berdamai karena memanfaatkan salah satu dari 6 metode di bawah. Apa sajakah itu? Penasaran?

Dari satu contoh kasus sci-fi di atas, apa sih kemungkinan permasalahannya? Apa dampak yang terjadi, dan bagaimana perubahan yang tercipta nanti jika dilakukan resolusi konflik dengan 6 metode di bawah ini? Selamat berdiskusi dan tinggalkan komentar Anda.

  • 6 Prinsip Resolusi Konflik untuk Hak Asasi Pribadi dan Produktivitas Kerja

Thomas-Kilmann mengatakan ada 5 cara manajemen konflik yang boleh kita pilih bergantung pada momen-momen yang tepat. Yaitu; (i) Avoiding, (ii) Competing, (iii) Accomodating, (iv) Collaborating, dan (v) Compromising.

Menghindari saja (Avoiding) adalah cara tepat ketika situasinya kita ingin menjaga hubungan agar tidak bertambah buruk, masih berpikir apa yang sebenarnya terjadi, dan ada sesuatu yang lebih penting maka harus kita tunda meresponnya. [ii]

Menegurnya (Competing) hanya baik disaat kita butuh memperjuangkan hak dasar kita seperti hak untuk tidak diBullying/Dihina/Direndahkan baik secara langsung maupun tidak langsung.[iii]

Memfasilitasi (Accomodating) sangat cocok apabila lingkungan yang muncul membutuhkan relasi yang lebih kuat lagi kepada orang-orang tersebut ketimbang harus mengajukan argumen kita pribadi. Atau disaat perlu ‘ngesupport’ mereka untuk belajar dan tumbuh dari alur target keinginan mereka sendiri.[iv]

Menyeringkan komunikasi & saling bantu sukarela (Collaborating) adalah suatu prinsip kolaborasi yang cukup kompleks namun sederhana disaat yang tepat. Ketika kita belajar dan berharap untuk menguji asumsi-asumsi kita dan memahami sudut pandang orang lain, menggabungkan pandangan, dan komitmen kesepakatan keputusan yang telah dibicarakan.[v]

Tawaran saling mengalah demi tujuan bersama (Compromising) menjadikan sebuah jalan tengah yang solutif hanya jika prinsip kolaborasi dan kompetisi gagal, tenggat waktu yang sempit sebagai solusi jangka pendek hingga informasi lebih lainnya akan diperoleh untuk berganti ke prinsip lainnya. Karakteristik prinsip ini adalah kedua belah pihak menyerah akan sesuatu dan mengambil titik tengahnya.[vi]

Yang keenam yaitu peran sholat tepat waktu dan dzikirullah seharusnya dapat membantu kita dan Allah pastilah akan bantu kita, agar orang-orang disekitar kita tidak ‘merendahkan’ kita. Dan mungkin saja yang terjadi adalah ternyata Allah bakal meninggikan derajat kita disetiap detiknya jika melakukan setidaknya dengan Istiqomah/disiplin 2 hal tadi.

“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).”[vii]

  • Dampak Perubahan yang Diinginkan

Lalu tentang 2 tujuan manajemen konflik yang damai (The Peacefully Conflict Management) untuk dampak pribadi dan untuk Tim. Menurut pakar SDM Chairunisa L. jika kita bisa mencapai suatu resolusi konflik kita akan memperoleh manfaat tertentu dan mencegah dampak risiko tertentu, sebagai berikut:[viii]

Untuk tim, tentu kita menghendaki sebuah empati total/ikatan emosional kuat antar karyawan, (ii) memperbaiki komunikasi dan kerjasama antar karyawan, (iii) tiap karyawan bisa menempatkan diri dalam team, dan (iv) menumbuhkan kompetisi yang sehat antara karyawan, kata Chairunisa.

Tambahnya lagi untuk pribadi, akibat konflik jika tidak tepat menghadapinya, maka berisiko hal yang tidak diinginkan: (i) Ketidakseimbangan emosional, (ii) Penurunan produktivitas, (iii) Output pekerjaan buruk, (iv) Karyawan resign/employee turnover.

  • Identifikasi Konflik yang Dihadapi

Bagaimana kita tahu sedang dihina/dibullying/direndahkan? Mungkin cukup jelas. Tetapi tidak selalu asumsi kita benar, bisa saja suatu kesalahan. Nah sekarang kamu boleh luangkan waktu dan coba belajar memahami emosi dari ekspresi wajah seperti pada gambar di samping ini. Peneliti Paul Ekman & Friesen (2003) menuliskan dalam bukunya tentang eksperimen mandiri, cara cepat agar menguji asumsi Anda apakah benar, silahkan cari foto wajah di samping yang mana memiliki ekspresi merendahkan/menghina?[ix]

Merujuk kepada pakar SDM Chairunisa L., Definisi konflik adalah suatu perbedaan yang menimbulkan perselisihan atau pertentangan setelah situasi itu terjadi. Baik di lingkungan keluarga, lingkungan kerja, pemerintahan antar negara, dan masyarakat. Namun jika setelah situasi perselisihan itu kita dengan orang tersebut baik-baik saja maka bukanlah suatu kasus konflik.[x]

Perbedaan dan Keberagaman (Diversity) menurut saya ialah suatu keunikan, khas budaya, dan karakter pribadi yang tercipta dari dua jalur yaitu “dipelajari (nurture)” dan “diturunkan (nature)”. Dan hal ini berbeda dengan namanya konflik. (SRH/XXX)

[i] http://kbbi.kemdikbud.go.id

[ii]  https://medium.com/@mark.bridges/finding-it-hard-to-manage-conflict-at-the-workplace-d99bc4d4172a

[iii] http://www.managetrainlearn.com/page/conflict-resolution-model

[iv] https://www.mediate.com/articles/eilermanD5.cfm

[v] https://www.skillsone.com/Pdfs/smp248248.pdf

[vi]https://med.libretexts.org/Bookshelves/Nursing/Book%3A_Leadership_and_Influencing_Change_in_Nursing_(Wagner)/12%3A_Identifying_and_Understanding_How_to_Manage_Conflict/12.04%3A_Dealing_with_Conflict-_Different_Approaches

[vii]Al-Qur’an. Surah Ali Imran:26-27

[viii] L., Chairunisa. “Conflict Management”

[ix]Ekman, Paul. & Wallace V. Friesen. Unmasking The Face: A Guide to Recognizing Emotions from Facial Expressions. (Malor Books, 2003).

[x] L., Chairunisa. “Conflict Management”