free page hit counter

TRADISI BALAMUT YANG SUDAH DITINGGALKAN MASYARAKAT

Tradisi lamut atau balamut merupakan jenis karya sastra tradisional yang berbentuk syair, pantun dan narasi. Balamut juga merupakan seni tutur masyarakat banjar yang sudah berusia ratusan tahun, penyajian lamut sama seperti pegalaran wayang di Jawa memerlukan durasi semalam suntuk. Penyajian lamut didukung oleh alat musik tarbang dan pedupaan yang selalu mengepul dari awal sampai akhir cerita tempat penyajiannya dapat dilakukan luar ruangan, tanah lapang, sawah yang telah kering maupun di pekarangan. Waktu penyajiannya biasanya dilakukan malam hari hingga sholat subuh.

Asal usul kata lamut berasal dari bahasa arab la mauta artinya tidak mati hal itu merujuk pada tokoh utama cerita yang bernama lamut yang tidak pernah mati. Lamut di Kalimantan Selatan telah lahir pada saat sebagian masyarakat masih menganut kepercayaan animisme (kepercayaan terhadap makhluk halus dan roh). Sebagai warisan seni budaya leluhur pada animisme pada segala sugesti yang difatwakan oleh pelamutan pada masa itu menjadi sesuatu hal yang sakral dan religius sehingga yang melanggar adat istiadat leluhur akan mendapat kutukan pingitan diri.

Tradisi balamut sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Hal ini karena akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berimbas pada gaya hidup termasuk dengan sarana hiburan dan juga tradisi balamut yang memerlukan durasi semalam suntuk membuat penikmat atau masyarakat pendukungnya lama kelamaan tidak tahan untuk menonton dan berangsur angsur mulai meninggalkan kesenian lamut tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *