Cerpen

Mamang Cilok

Namun sungguh sayang malam itu nasib naas menimpa kedua orang tua mang Aji tanpa dia ketahui. Hingga keesokan paginya, derai air mata sudah membasahi pipi mang Aji yang tak kuasa menahan tangis duka begitu dalam melihat kedua orang tuanya sudah tak bernyawa dalam keadaan terluka akibat tertindih material longsor.

Perasaan campur aduk pun menerpa mang Aji. Perasaan sedih, takut, menyesal, dan menyalahkan diri sendiri berkecamuk dalam dirinya. Tapi apa mau dikata, takdir akan datangnya kematian tak bisa ditunda maupun dipercepat sedetik pun oleh siapa pun. Sebenarnya bukan kematian kedua orang tuanya yang begitu mamang Aji sesali, melainkan keberadaan dirinya yang jauh saat kedua orang tuanya dalam keadaan merenggang nyawa.

“Mang, kalau ciloknya gak habis, biasanya mamang apakan?” Tanya Sari.

“Ya, buat makan mamang lah.”

“Gak bosan apa mang, kalau tiap hari gak habis, berarti tiap hari mamang makan cilok terus dong.”

“Gak bosan lah kan sama kaya kamu Sar, yang tiap hari beli cilok mamang terus.”

“Oh ya mang, mamang waktu itu pernah cerita sama Sari kalau dulu waktu mamang di kampung, suka mendaki gunung? Kalau Sari boleh tahu, gunung apa saja mang?”

“Oh soal itu. Iya dulu kalau liburan sekolah, mamang suka ikut para mahasiswa pecinta alam mendaki gunung. Gak banyak gunung yang sudah mamang daki, tapi yang paling berkesan adalah waktu mamang mendaki gunung Pusuk Buhit.”

“Memangnya apa yang berkesan dari gunung itu mang?”

“Dari puncak gunung Pusuk Buhit, mata kita dimanjakan dengan hamparan luas danau Toba yang terlihat jelas dari sana, sungguh indah.”

“Ehmm keren banget ya mang. Oh ya, sekarang mamang masih suka mendaki gak?”

“Sekarang sih sudah enggak lagi Sar, soalnya kan mamang sibuk jualan dan di sini mamang gak punya teman buat mendaki, kalau buat dagang sih ada.” (menjelaskan dengan tersenyum)

“Terus apa sih mang asyiknya mendaki gunung itu?”

Pertanyaan satu demi satu terus Sari lontarkan pada mamang Aji layaknya seorang wartawan yang sedang mencari berita. Tak salah memang, tapi untuk ukuran siswa SD kelas 6, rasanya itu sesuatu yang luar biasa. Usia yang seharusnya tertarik dengan boneka barbie, pakaian princes, bermain ke wahana permainan baru, dan hal lainnya tapi Sari justru sebaliknya. Tertarik dengan alam dan terlihat sangat senang ketika sudah berbincang soal alam, mendaki, gunung, dan hal lainnya apapun itu asalkan terkait dengan alam.

Untungnya mamang Aji merupakan sosok yang ramah meski berbanding terbalik dengan raut wajah tegasnya. Melihat Sari seolah- olah refleksi dia dulu, seorang anak yang polos, belum tahu betapa kerasnya hidup yang setiap saat dapat membenturkan dan menjatuhkan diri, dipikiran saat itu hanya bersenang-senang, bermain, dan selalu bahagia bersama teman-teman. Masa anak-anak memang masa yang paling indah dan nyaman karena tidak memiliki beban apapun berbeda ketika sudah beranjak dewasa.

Mamang Aji dengan Sari seolah memiliki ikatan pertemanan tersendiri yang seakan-akan semesta telah menakdirkannya. Entah kenapa ketika melihat senyum polos Sari dengan tatapan sendunya, membuat mang Aji terenyuh dan merasa damai. Seakan Sari adalah sosok yang dikirimkan semesta untuk menjadi teman pelipur laranya. Selama mang Aji berjualan di SDN 2 Guntung Payung, hanya Sari yang selalu setia mendengarkan cerita-cerita seru dan indah mengenai petualangannya dulu menaklukkan gunung-gunung api yang ada di kampungnya.

“Mamang itu keluarganya Sari ya?” Tanya Cici teman akrabnya Sari.

“Bukan, memangnya kenapa?”

“Habisnya mamang kelihatannya dekat dengan Sari, sering ngobrol kayak keluarga gitu. Terus  ibunya Sari juga sering menitipkan makanan buat mamang.”

“Kalau soal ngobrol, mamang sebenarnya bisa ngobrol sama siapa saja, cuma kaliannya mau gak ngobrol sama mamang. Biasanya kalian kan habis beli cilok mamang, langsung pergi. Kalian semua yang ada di sekolah ini sudah mamang anggap seperti adik mamang sendiri, bukan hanya Sari saja. ”

“Berarti nanti aku boleh dong gabung juga waktu mamang sama Sari ngobrol.”

“Tentu. Memangnya kamu tertarik apa mendengarkan cerita-cerita mamang?”

Kedekatan mamang Aji dengan Sari membuat orang-orang beranggapan bahwa mereka memiliki hubungan keluarga. Apalagi terkadang, ibu Gisa dengan senyum lembutnya sering menyapa dan memberikan sekotak makanan maupun kue saat menjemput Sari maupun sekedar menitipkannya kepada Sari. Ibu Gisa sering memberikan makanan atau kue kepada mang Aji terutama saat cateringnya lagi banyak pesanan.

“Sar, nanti kotak yang berwarna merah itu kamu berikan pada mamang Aji ya, kalau kotak yang biru buat kamu sama teman-teman kamu.”

“Iya bu, siap. Wah mang Aji pasti senang banget bu dapat makanan dari ibu selain enak, pastinya gratis.”

“Hush gak boleh gitu Sar, kalau memberi sesuatu kepada orang lain, gak boleh ngomong gitu, kurang sopan dan bisa menyinggung orang yang diberi.”

“Iya, maaf bu. Sari janji gak akan ngulangin lagi.”

Hal tersebut dilakukan bu Gisa karena merasa simpati mendengar cerita Sari tentang mamang Aji. Sebagai ibu dan perempuan yang pernah merantau ke daerah orang, ibu Gisa paham betul bagaimana beratnya kehidupan yang mamang Aji jalani, apalagi tanpa pegangan hidup sama sekali. Bagai kapal tanpa kemudi, bingung harus ke arah mana. Tapi bu Gisa yakin mamang Aji adalah sosok yang kuat karena mampu bertahan hidup hingga sekarang. Dalam hidup memang ada kalanya harus ditempa dan dibenturkan dengan berbagai ujian dan masalah, karena dari hal itulah seseorang belajar menjadi lebih dewasa dan lebih kuat. Layaknya sebatang besi tak akan pernah menjadi sebilah samurai bila tak ditempa.

by:Zulfia

About the author

Ratna Lindawati

Add Comment

Click here to post a comment