free page hit counter

KALADAN (KEMANA LANGKAHKU, ADA NAMAMU) Part 2

Seulas senyum manis bu Gisa terlihat ketika membuka buku bersampul merah hati. Ya, Sari mendapatkan peringkat satu lagi di kelasnya. Keluarga kecil itu sangat senang terutama Sari yang akan mengisi liburan bersama orang tuanya dengan mendaki bukit Matang Kaladan Aranio. Bukit Matang Kaladan terletak di Desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar. Daerah yang dekat dengan tempat tinggalnya, Banjarbaru. Bukit ini berada di area dermaga bendungan Riam Kanan yang berjarak sekitar 25 km dari pusat kota Banjarbaru. Tidak sulit untuk menemukan jalur untuk naik ke bukit Matang Kaladan ini. Puncaknya bahkan terlihat dari area parkir kendaraan.

Liburan kali ini merupakan liburan paling berkesan untuk Sari. Karena, ini pertama kalinya dia bersama orang tuanya mencoba untuk menginap di alam. Biasanya keluarga mereka setelah berhasil mendaki bukit dan turun lagi, langsung pulang ke rumah. Tapi kali ini berbeda.

Sari sudah membayangkan bagaimana saat menginap di alam, gelap memang, tapi ada perasaan senang tersendiri yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan saat berada di bawah langit dengan hamburan kerlap kerlip cahaya bintang, suara gemuruh air dan kelotok para pelayar malam yang membuat nada tersendiri. Suasana yang mampu memecahkan kesunyian menjadi sesuatu yang sayang jika tak dinikmati.

Pagi harinya dibangunkan dengan suguhan segaris matahari yang perlahan muncul menyapa cakrawala. Tentunya memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk paru-paru. Mendaki bukit bukan hanya tentang mengejar puncaknya dengan langkah kaki menggebu-gebu untuk sampai puncak, tetapi yang lebih penting adalah bisa memetik hal positif yang bisa dibawa pulang setiap langkah kaki menuju rumah dengan selamat. Puncak takkan pindah, santai saja, nikmati setiap langkah kakimu dan pandanglah kanan kiri sekelilingmu. Karena sejauh matamu memandang akan banyak flora maupun fauna yang langka akan kamu temui.

Mendaki juga bukan hanya tentang cekrek-cekrek ambil foto di berbagai titik untuk konten sosial media. Dokumentasi sekedarnya sajalah untuk kenangan. Kenangan yang tentu akan membuat kita rindu dengan suasananya hingga perasaan kita selalu ingin kembali ke sana.

Pagi ini tercium beberapa aroma masakan dari dapur. Selain itu, juga terdengar suara tetesan air dari halaman depan rumah yang menandakan pak Andri sedang mencuci kendaraan Beat oranye kesayangannya. Ibu Gisa mempersiapkan peralatan camping dan beberapa makanan yang siap dibawa sebagai bekal pendakian mereka nanti. Dan makanan yang satu ini tidak pernah lupa disiapkan bu Gisa, yaitu pisang rebus.

Menurut bu Gisa, pisang rebus adalah makanan yang paling ampuh untuk mengganjal perut saat lapar apalagi saat melakukan perjalanan yang menantang. Selain harganya murah tentu saja nilai gizinya sangat baik untuk tubuh. Ibu Gisa memang hanya ibu rumah tangga, namun pengetahuannya terhadap kesehatan cukup mumpuni untuk menyiapkan makanan sehat bagi keluarga kecilnya.

Sementara itu, diwaktu yang sama Sari juga menyiapkan beberapa barang yang akan dibawanya saat mendaki nanti seperti air minum, snack, baju ganti, dan yang tidak pernah tertinggal adalah kameranya yang siap menangkap setiap momen berharga di sana. Kamera pemberian ayahnya sebagai kado ulang tahunnya yang ke-10 tahun lalu. Kamera yang selalu setia menemani Sari untuk mengabadikan momen-momen indah dalam kisah petualangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *