free page hit counter

Esensi Kemerdekaan: Sebuah Akhir atau Perjalanan Yang Kian Bergulir?

Tanggal 17 Agustus diperingati sebagai hari kemerdekaan Indonesia. Momentum penuh perjuangan terabadikan dalam sejarah. Salah satu tokoh proklamasi Indonesia sekaligus presiden pertama Indonesia memiliki sebuah seruan “JAS MERAH” atau jangan pernah melupakan sejarah. Berbagai pelajaran, suri tauladan, serta rangkaian nasihat terpampang apabila kita berkenalan dengan sejarah. Sejarah bukan semata-mata masa lalu yang harus dilupakan. Move on dari sejarah bukanlah pilihan yang tepat. Terlebih sejarah menorehkan banyak hal juga merupakan salah satu media bagi kita untuk belajar. Kesalahan di masa lalu bukan untuk disesali melainkan dijadikan pedoman demi masa depan yang lebih gemilang.

Perjuangan penuh pertumpahan darah hingga mengorbankan banyak nyawa membawa Indonesia menghirup udara kemerdekaan. Kemerdekaan bukanlah warisan atau hadiah undian, kemerdekaan adalah bukti nyata bila perjuangan memerlukan aksi nyata. Hingga kini kemerdekaan hadir dengan beragam dimensi. Kemerdekaan tumbuh dalam beragam situasi, seperti saat ini dimana teknologi telah berganti menjadi sebuah kebutuhan. Kecanggihan teknologi turut mengambil peran dalam kondisi ini. Pesatnya perkembangan disertai kemerdekaan yang hadir dimana-mana memunculkan dilema. Di satu sisi kemerdekaan hadir sebagai kekuatan untuk berekspresi tetapi dalam sisi lainnya kemerdekaan datang sebagai salah satu bahaya yang wajib diwaspadai.

Ibarat Dua Sisi Mata Uang

Kemerdekaan bukan semata-mata terbebas dari belenggu penjajah yang menyebabkan kesengsaraan. Di masa sekarang, kemerdekaan adalah sebuah keistimewaan yang dimiliki oleh setiap orang. Hadirnya kemerdekaan bagi setiap orang turut menyebabkan bebasnya masing-masing pribadi untuk mengambil berbagai keputusan dan tindakan untuk ragam kepentingan. Ibarat dua sisi mata uang, kemerdekaan hadir bergandengan dengan peluang dan tantangan. Menyikapi peluang dan tantangan yang dibawa kemerdekaan perlu dilakukan dengan cermat dan berhati-hati

Keleluasaan untuk berkreasi, keluwesan berekspresi, dan menggapai jati diri berada dalam genggaman mencerminkan bahwa kemerdekaan itu bukan sebatas seruan semata. Kemerdekaan menghadirkan kesempatan yang dimana kesempatan itu tentunya merupakan sebuah peluang untuk senantiasa berkembang dan menjemput materi baru sebagai bagian dari pembelajaran. Peluang untuk mencari jati diri terbuka lebar dalam hal ini. Kesempatan datang bukan untuk disia-siakan. Maka setiap orang berhak untuk menentukannya.

Di sisi lain, hadirnya peluang tersebut turut serta membawa tantangan bagi setiap individu. Kendati kemerdekaan itu memberikan ruang bagi kebebasan, namun pada dasarnya kebebasan juga memiliki batas. Sebagai makhluk sosial manusia memiliki kecenderungan untuk hidup bermasyarakat. Agar tidak saling mengganggu satu sama lain sudah sewajarnya bagi kita memperhatikan rambu yang ada. Apakah kebebasan yang kita miliki merupakan kebebsan tanpa memikirkan orang lain? Tentu, bukan kebebsan semacam itu yang menyertai kita. Tanpa kita sadari secara garis besar kemerdekaan yang kita miliki juga terbatas dengan kemerdekaan orang lain. Selain membawa peluang untuk berkembang, kemerdekaan tentunya menghadirkan sebuah tantangan berkenaan dengan menghormati kemerdekaan orang lain. Tantangan ini harus dihadapi dengan kelapangan untuk mengembangkan toleransi. Toleransi adalah kunci penerapannya. Jika kita merdeka tanpa menghormati kemerdekaan orang lain tentu mencerminkan bahwa kita bukan sosok yang bermartabat.

Bhineka Tunggal Ika bukan semata-mata semboyan Indonesia melainkan acuan dan pedoman dalam menghadapi situasi ini. Kecenderungan untuk bertindak semaunya akan datang bila kita tidak sesegera mungkin menyadari hakikat dari sebuah toleransi. Memegang kunci sekaligus jalan keluar dari kacaunya perpecahan, semangat toleransi akan menghadirkan kondisi yang harmonis.

Toleransi di Tengah Pandemi

Kondisi majemuk yang menyelimuti Indonesia perlu disikapi dengan bijaksana. Toleransi adalah prinsip yang harus dijunjung tinggi. Begitupun dengan perubahan yang berlangsung abadi. Kentalnya perubahan dapat kita rasakan di masa pandemi seperti ini. Kondisi pandemi ini membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek di Indonesia bahkan seluruh penjuru dunia. Kepanikan tentu mendera hampir seluruh lapisan hingga berbagai himbauan serta regulasi dikeluarkan untuk menjaga stabilitas. Salah satu yang menggiurkan saat ini adalah kecanggihan teknologi. Pemanfaatan terhadap hal tersebut turut dilakukan. Aktivitas sekolah yang semula tatap muka dialihkan menjadi media daring, begitupun dengan kegiatan kerja yang dilakukan dari rumah.

Kecanggihan teknologi seakan menjadi bagian dari kebutuhan. Vitalnya peran teknologi dalam kondisi pandemi seperti saat ini mendorong masyarakat untuk memilikinya. Salah satu contohnya perihal gawai sebagai barang wajib bagi berbagai kalangan. Tidak hanya untuk kepentingan esensial seperti bekerja, sekolah, dan berkomunikasi pemanfaatan gawai bahkan hingga menyentuh ranah rekreasi. Terbatasnya kegiatan di ruang publik juga menyebabkan teralihnya kegiatan sosialisasi menggunakan media tekonologi. Salah satu diantaranya adalah media sosial yang menjadi tempat untuk berkomunikasi satu sama lain. Media sosial dapat diakses kapan saja, dimana saja, juga oleh siapa saja. Kemudahan yang dihadirkan sungguh memanjakan hingga terkadang batas-batas kewajaran dilewati begitu saja.

Menggunakan media sosial dengan bijak adalah sebuah keharusan. Kecermatan dan kesadaran sangat diperlukan. Salah satunya mengenai tata krama berkomunikasi di sosial media. Dengan menggunakan jari, kita bisa dengan leluasa melontarkan berbagai komentar dan opini. Berkomentar dan beropini adalah hal yang wajar. Tetapi kecepatan jari tangan tidak melebih kecepatan pikiran untuk mencerna apa yang seharusnya dilakukan. Memilah konten, kata-kata, segala bahan yang akan di posting, juga tontonan di sosial media adalah keharusan. Mengerti batasan dan bagaimana seharusnya bertindak perlu untuk dikembangkan. Apalagi jiwa toleransi yang senantiasa harus dipupuk. Toleransi bukan hanya amunisi untuk membuktikan bahwa kita adalah sosok berjiwa nasionalisme melainkan sosok yang harus dibawa dalam perjalanan meneruskan kemerdekaan. Kemerdekaan dan toleransi adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Keharmonisan akan tercapai bila toleransi itu digenggam teguh oleh siapapun.

Ketikan Jari Cerminan Kualitas Diri

Pepatah mengatakan sebuah petuah mengenai sebab akibat, yaitu apa yang kita tabur itu pula yang kita tuai. Sejatinya setiap perbuatan, langkah, maupun pilihan yang kita kehendaki diiringi dengan datangnya konsekuensi. Jika cermin adalah satu-satunya pantulan yang tidak akan tertawa saat ekspresi kesedihan muncul, refleksi diri mesti dipancarkan layaknya cermin yang selalu menjunjung kejujuran.

Sering kali karena tersulut emosi atau terpengaruh oleh suasana sekitar, logika berjalan lebih lambat ketimbang kecepatan jari. Berkomentar negatif terhadap orang lain dilakukan dengan begitu saja. Tanpa memikirkan akibat juga dampak yang akan dirasakan oleh orang tersebut. Misalnya saja mengenai fisik sebagai salah satu pembahasan yang sensitif dan mampu menumbuhkan rasa insecure dalam diri seseorang. Dampak tentu saja terhadap mental dan kepribadian. Beberapa diantaranya sering kali mengarah kepada self harm dan depresi.

Kondisi yang memprihatikan ini bisa kita cegah dengan satu langkah sederhana, yaitu memilah setiap komentar yang akan kita tinggalkan di halaman sosial media seseorang. Dalih bercanda bukan sebuah tameng yang dapat melindungi diri. Terlebih hinaan mengenai fisik bukanlah sebuah lelucon yang mengasyikan. Nyatanya, langkah sederhana itu dapat dimulai dari diri sendiri. Diterapkan dalam ruang lingkup terdekat hingga vibrasi positif tersebut dapat menyebar dalam ruang yang lebih luas. Agen perubahan adalah kita sendiri, untuk itu bertanggung jawablah terhadap segala langkah yang kita tempuh

Akhir Kata

Memupuk solidaritas di masa pandemi akan menumbuhkan kekuatan yang tinggi. Beratnya tantangan dalam berbagai persoalan terselesaikan dengan sebuah langkah sederhana, bersikap toleransi. Toleransi membawa kedamaian menjadi realita bukan sekedar angan-angan belaka. Terlebih kecanggihan teknologi kadang membuat kita tanpa sadar melanggar batas sewajarnya. Berfikir sebelum bertindak merupakan salah satu pilihan yang tepat. Kita semua adalah penerus selanjutnya yang berperan untuk menjaga semangat toleransi demi kebaikan negeri.

 

 

Ni Putu Gita Mahayuni_Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *