Kearifan Lokal

Dibalik Pasar Sudimampir Part III

Ketika Sari sudah sampai di sana, pandangannya tak lepas dari bangunan pasar dalam wujud toko-toko yang menjual berbagai macam kebutuhan hidup. Suara riuh dari orang-orang terdengar begitu mengganggu. Seperti ibu bilang, pasar Sudimampir merupakan pasar terbesar yang ada di Kalimantan Selatan sehingga pasar tersebut menjadi pusat perberlanjaan baik masyarakat setempat maupun para pedagang dari berbagai daerah. Bukan hanya kebisingan yang ada di sana, tapi juga peristiwa macet orang. Kalau biasanya macet identik dengan kendaraan bermotor, ini sebaliknya kemacetan di sana justru disebabkan oleh jumlah orang yang begitu rumpah ruah.

“Gimana Sar pendapatmu, lengkapkan pasarnya?”

“Lengkap sih lengkap bu, tapi Sari jadi pusing bu banyak orang dan berisik gini.’’

“Di sini suasananya memang begitu, kan pasar terbesar dan terlengkap jadi biasalah. Ya sudah kita langsung ke tokonya saja ya.”

Pasar yang terletak di pusat Kota Banjarmasin, tepatnya di samping jembatan Sudimampir, jalan Pangeran Antasari, Banjarmasin ini banyak menyimpan historis atau sejarah bagi sebagian warganya. Nama Sudimampir menurut Mansyur seorang Dosen Sejarah di Universitas tertua, yaitu Universitas Lambung Mangkurat (ULM), berasal dari kata Soedi dan Mampir. Nama itu pertama kali dipakai dalam sebuah Majalah yang berjudul Poetri Hindia dengan nomor penerbitan 03/1909. Pembangunan pasar Sudimampir sendiri menurut sejarah mulai digagas pada tahun 1937 oleh Ir. Kartens. Pembangunan tersebut dilaksanakan secara bertahap hingga 3 sampai 5 tahun dan realisasinya hingga tahun 1942.

Pada masa Kartens, telah dibangun pasar baru yang bertujuan untuk menjual sayur dan ikan yang letaknya tepat di tepi sungai Martapura, tepatnya pada persimpangan tiga jalan yang disebut pasar Sudimampir. Pada bagian pasar ini, baik pihak Gemeente (Pemerintah Kota Besar) Banjarmasin, ataupun pihak perusahaan Borsumji telah mendirikan berbagai macam toko-toko bertingkat. Selain itu, tempat-tempat hiburan juga mulai dibangun, yaitu didirikannya dua buah bioskopdi kawasan pasar Sudimampir yang bernama Eendracht dan Corrie.

About the author

Zulfia Rizqimah

Add Comment

Click here to post a comment