free page hit counter

Cerita Pala dan Fuli

Pala sebagai salah satu jenis rempah merupakan tumbuhan berbatang sedang yang dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 18 m. Buahnya menyerupai buah persik (peach) dan buah aprikot (apricot) dengan daun berbentuk bulat telur atau lonjong yang selalu hijau sepanjang tahun.

Buah pala berwarna kuning, berdaging, dan beraroma khas, juga mengandung minyak atsiri. Ketika masak, kulit dan daging buah akan terbuka dan biji akan terlihat bungkus fuli yang berwarna merah. Satu buah pala ini mampu menghasilkan satu biji yang berwarna cokelat. Bagian yang dipanen dari pohon pala adalah biji dan fuli ini. Khusus untuk fuli saja, ia bernilai ekonomi lebih tinggi karena dalam satu pohon pala, fuli dihasilkan lebih sedikit daripada bijinya.

Ketika buah pala panen, ia dipisahkan dari fuli, biji pala akan dijemur hingga kering. Proses pengeringan biji pala ini memakan waktu dari enam hingga delapan minggu. Ketika dikeringkan, bagian dalam biji akan menyusut. Setelah kering, cangkang biji akan pecah dan menghasilkan bagian dalam biji yang dikenal sebagai pala.

Diantara biji dan buah pala terdapat selaput pembungkus berwarna merah yang disebut dengan fuli (bunga pala, dalam Bahasa Inggris: mace). Terdapat beberapa jenis pala yang telah dikenal, yaitu pala Banda (Myristica fragrans Houtt) merupakan jenis utama dengan mutu dan produktivitas tertinggi di antara jenis pala yang ada. Jenis pala ini merupakan tanaman asli Kepulauan Banda dan dapat berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun.

Pohon pala sendiri dapat dipanen ketika berusia antara tujuh sampai sembilan tahun. Ia akan berproduksi secara maksimal ketika mencapai usia dua puluh lima tahun. Tanaman ini juga dapat tumbuh mencapai ketinggian dua puluh meter dan dapat berusia sampai ratusan tahun.

Di masa lampau, tanaman pala ditanam bersama dengan pohon kenari (Canarium Indicum) yang jauh lebih tinggi dan sekaligus melindungi pohon pala dari sinar matahari. Selain memberi perlindungan, pohon kenari juga menghasilkan kacang kenari dan kayunya dapat digunakan sebagai bahan pembuat rumah. Bunga pohon pala ini secara alami mengalami penyerbukan dengan bantuan serangga untuk dapat menghasilkan buah. Sementara itu, tanaman ini menyebar karena buahnya dimakan oleh burung merpati yang mencernakan buah dan mengeluarkan biji pala sebagai kotoran.

Keunggulan pala Banda dibandingkan varietas pala dari wilayah lainnya, yakni rendemen minyak yang dihasilkan dari proses ekstraksi sangat tinggi serta memiliki aroma khas yang tidak diperoleh dari varietas pala lainnya. Selain itu, ukuran pala Banda yang besar juga menjadi pembeda kualitas dengan jenis pala dari luar Banda. Begitu banyak manfaat dari tanaman pala dan telah lama digunakan dalam berbagai produk makanan dan minuman, parfum, dan kosmetik. Selain itu, pala juga menghasilkan minyak yang digunakan sebagai

30

 

obat-obatan untuk menstimulasi sistem jantung, meredakan diare, rematik, nyeri otot, sakit gigi, menghilangkan racun dalam hati, serta berbagai khasiat lainnya (Agaus & Agaus, 2019).

Pada suatu waktu di periode kolonial, Belanda mengembangkan sistem penanaman pala yang didesain agar dapat menghasilkan panen secara maksimal. Hampir setiap meter persegi dari tanah yang ada ditanami dengan pala. Pulau Lonthor, yang merupakan pulau terbesar, merupakan pulau yang paling banyak menghasilkan pala diikuti oleh Pulau Ai dan Run.

 

Gina Astuti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *