Opinion

SERU!! TRADISI MEMBANGUNKAN SAHUR DI INDONESIA

Indonesia memang sangat kaya dengan berbagai keragaman, mulai dari agama, suku, bahasa hingga hal kecil seperti tradisi membangunkan sahur. Di tengah pandemik ini, tentu aktifitas berkumpul seperti membangunkan sahur di jalanan mulai berkurang bahkan tidak ada.

Nah, kali ini penulis ingin membawa kita semua bernostalgia. Mengingat bagaimana keseruan tradisi membangunkan sahur di berbagai daerah di Indonesia.
Yuk di cek!

KALIMANTAN SELATAN: BAGARAKAN SAHUR

Bagarakan sahur yang dalam bahasa Indonesia berarti membangunkan untuk bersahur, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Kalimantan Selatan. Banyak cara yang digunakan, mulai dari berkeliling membawa alat musik dan dauh (red. beduk) hingga menggunakan pengeras suara di mesjid.

Saking serunya, pemerintah provinsi Kalimantan Selatan bahkan menggelar festival bagarakan sahur setiap tahunnya. Tahun lalu penulis berkesempatan untuk menyaksikan festival tersebut di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 140 km dari ibu kota Kalimantan Selatan, Kota Banjarmasin.

Di festival tersebut, masing-masing daerah menunjukkan kebolehan dan kreatifitasnya untuk membangunkan sahur. Gak hanya jadi ajang bersenang-senang, tapi juga tempat mengasah kreatifitas. Eittss.. Tiap ada festival, ada hadiahnya juga loh. Hehehe

JAWA BARAT: UBRUG-UBRUG

Di Jawa Barat, lebih tepatnya di Kuningan, juga ada tradisi membangunkan sahur yang disebut ubrug-ubrug. Ya, ini penulis anggap mewakili Jawa Barat ya, walaupun ada nama lainnya. Soalnya seperti penulis bilang di awal, Indonesia itu terlalu beragam, hingga dalam provinsi yang sama saja mungkin ada tradisi yang berbeda.

Lanjut… Jadi tradisi ini biasanya diikuti sekelompok pemuda yang berjumlah 10 orang. Ada pembagian tugas, lima orang menabuh genjring, dua orang bawa kentungan bambu, satu orang penabuh beduk, yang lainnya? Dorong gerobaknya dong, kan gak jalan kalau diam aja. Hehehe, bercanda.

ACEH: DIKE

Pernah liat video babang-babang aceh yang viral di Instagram? Ya, itu salah satunya.

Dike biasanya melantunkan irama-irama yang berbau kampung halaman, berbahasa daerah. Sebenarnya dike sering digelar ketika perayaan maulid, biasanya dilakukan di mesjid sambil menunggu hidangan kenduri yang akan dibagi-bagikan.

Tradisi ini biasanya dilakukan dengan posisi duduk, tapi bisa juga berdiri. Diiringin dengan lantunan selawat yang berirama khas budaya setempat. Sembari melantunkan selawat, dibaca juga syair, saling berbalas rima, dengan gerakan badan dan kepala yang lincah.
Nah, yang sempat viral itu, persis seperti lantunan selawat dan syair-syair yang dilantunkan dalam prosesi dike.

JAKARTA: NGARAK BEDUG (BEDUG SAHUR)

Lagi-lagi penulis harus mempertegas bahwa Indonesia sungguh kaya. Tradisi kali ini datang dari Ibu Kota negara kita, DKI Jakarta. Warga Betawi khususnya memiliki tradisi untuk membangunkan orang sahur yang disebut ngarak bedug atau di beberapa tempat di kenal juga dengan sebutan bedug sahur.

Dari sebutannya saja, tentuk kita akan langsung teringat dengan beduk. Ya, tradisi ini dilakukan dengan mengarak beduk berkeliling dan membunyikannya, soalnya kalau diarak doang gak bangun nanti. Hehe

SULAWESI TENGAH: DENGO-DENGO

Beraling ke pulau Sulawesi, masyarakat di Kota Bungku, Morawali, Sulawesi Tengah juga memiliki tradisi membangunkan umat Muslim untuk melakukan Sahur yang mereka sebut dengan dengo-dengo.

Dengo-dengo dalam bahasa Indonesia berarti tempat beristirahat. Dengo-dengo merupakan sebuah bangunan yang menjulang setinggi hampir 15 meter. Biasanya didirakan oleh warga menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-17 loh katanya. Fungsinya untuk menyerukan kepada warga agar bangun saat sahur dini hari. Bangunan ini juga dilengkapi dengan sebuah gong, gendang, dan rebana. Katanya juga nih ya, hampir setiap rukun tetangga (RT) memiliki sebuah dengo-dengo. Sistemnya, menjelang sahur, para penjaga dengo-dengo akan menabuh gong, gendang, serta rebana sehingga warga akan terbangun untuk melaksanakan sahur.

Nah, itu tadi tradisi-tradisi yang ada di Indonesia. Gak banyak yang bisa penulis sampaikan dalam tulisan kali ini. Karenanya, penulis mengajak kalian semua untuk menuliskan apa tradisi yang ada di daerah kalian! Sertakan juga nama daerahnya ya!

About the author

Hafizah Fikriah Waskan

Add Comment

Click here to post a comment