Opinion

Puasa sebagai Reminder

OPINI-Kesadaran manusia berasal dari daya pikir serta ingatan. Tanpa disadari, kegiatan sehari-hari merupakan wadah awal pembentukan sikap individu. Mulai dari bangun tidur hingga kembali beristirahat. Pola ingatan setiap individu pun berbeda menurut ragam pekerjaan, aktivitas di lingkungan kerja, aktivitas lingkungan tempat tinggal, dan lain sebagainya.

Bentuk sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan visi yakni menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan menjadi pribadi baik seperti mencerminkan akhlak mulia baik dari dalam (pemikiran) maupun luar (perilaku), menghindari adanya konflik, permusuhan, ataupun menghindari putusnya tali silahturahmi antar umat beragama, walaupun memiliki keyakinan yang berbeda, merupakan beberapa contohnya.

Puasa di bulan suci Ramadhan adalah hal yang paling di nanti oleh umat Muslim di mana pun dia berada. Bulan suci Ramadhan memberikan pahala yang berlipat ganda, menambah nilai kebaikan, serta membawa perubahan dalam diri kita. Menjalankan aktivitas sebagai ibadah, membantu sesama dalam urusan dunia dan akhirat, maupun berprasangka baik, semua mendapat pahala.

Puasa mencegah terjadi hal buruk menimpa kita. “Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa,” [1]. Dengan bertakwa, kita diingatkan bahwasanya kegiatan puasa dilaksanakan untuk memupuk nilai kebaikan serta menjauhi larangan-Nya.

Puasa bukan halangan untuk bekerja. Percaya atau tidak, ada saja yang menjadikan puasa sebagai alasan untuk menghindar. Seperti berkehendak untuk libur karena puasa terlalu menguras tenaga, puasa dianjurkan tidur sebagai ibadah, puasa bawaannya lapar. Pemikiran seperti ini harusnya bisa kita hindari supaya orang menilai kita tidak buruk karena selalu menolak kata tolong dari orang lain. Siapa sangka, kalau pertolongan itu akan membuahkan rezeki tidak terduga kelak. Karena hal kecil bagi kita bisa berdampak beragam untuk orang lain.

Sesama umat beragama, kita harus bisa menempatkan diri. Tidak jarang menahan lapar dan haus membuat kita kadang malas untuk bergerak, apalagi disuruh atau ada permintaan. Perlu diingat, sebenarnya kita hidup dalam kelompok membantu untuk mencapai tujuan bersama, setidaknya kita perlu belajar untuk menanamkan nilai asertif pada diri kita. Di mana asertif berarti berperilaku rendah tetapi mempertahankan harga diri dan martabat. Contohnya seperti pegawai bank memiliki kewajiban untuk membantu nasabah yang kesulitan, pada waktu yang sama nasabah memberi keluhan, kritik, dan saran yang memojokan pegawai tersebut, solusinya sebagai pegawai bank complain tersebut ditanggulangi dengan berbagai solusi, misalnya memberi penegasan secara halus yang menjawab keluhan nasabah.

Bulan puasa, bulan penuh berkah, bulan penuh ingatan agar kita kembali seperti perangkat yang di setting ulang. Mengembalikan nilai dan norma yang pernah kita lewati dan pernah dilupakan karena banyak hal baru seiring berjalannya waktu. Melewati kegiatan selama puasa bukan berarti kita meninggalkan hal-hal wajib yang kita kerjakan tetapi kewajiban masing-masing. Sebagaimana mestinya kita hidup dalam keadaan nyaman dan damai. Jangan lupa, tidak hanya puasa sebegai pengingat untuk kita jalani, keyakinan akan kebaikan serta diri kita sendiri adalah kunci utama yang berharga. (bre/nov)

 

[1] QS. Al-Baqarah : 183