News

Naluri Kebaikan

Waktu dulu masih di bangku sekolah, guru selalu berkata “Ambil yang baik dan buang yang buruk (tidak Perlu).” Hal ini masih saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap, perilaku, adat-istiadat, adab, interaksi semua berkaitan erat dengan hal yang kita lakukan. Karena membentuk karakter harus dimulai dari diri sendiri sedini mungkin.

Informasi yang logis akan mudah dicerna dalam pikiran serta menjadi pandangan bagi pembaca. Tapi banyak hal yang harus kita benahi mulai dengan kepercayaan dalam diri sendiri. Sebaik apa pun hal yang kita percayai akan goyah apabila ada yang menarik dan membekas dalam perasaan seseorang.

“… Dalam Pancasila justru terkandung nilai-nilai agama-agama dan Ketuhanan yang hidup di Indonesia.” (Ahmad Basarah, 12-2-2020). Pancasila yang sering dibacakan setiap upacara tidak semata-mata hanya ucapan, melainkan nilai-nilai yang harus diterapkan sehari-hari. Agama yang membawa serta mengisi kepercayaan dalam kehidupan sehari hari adalah bukti dalam penyusunan dasar Pancasila sebagai dasar Negara kita Indonesia.

Perihal sepele bisa jadi besar karena berbeda paham. Seperti isu yang sedang berkembang bahwasanya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang hendak mengganti salam muslim assalamualaikum dengan salam Pancasila. “Iya, Salam Pancasila. Salam itu kan maksudnya mohon ijin atau permohonan kepada seseorang sekaligus mendoakan agar kita selamat. Itulah makna salam. Nah Bahasa Arabnya Assalamualaikum Wr Wb” ucap Yudian dalam video Blak-blakan detikcom. Sebenarnya BPIP tidak memiliki inisiatif untuk mengganti hal tersebut.

Melalui pernyataan dari bapa Yudian Wahyudi selaku ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), kita dapat memperhatikan bahwasanya isu tersebut tidak dapat diterima di lingkungan bahkan menjadi perdebatan yang viral di media sosial. Seperti kritik dari sekretaris Fraksi PPP DPR RI Achmad Baidowi yang menyatakan “Pernyataan Yudian Wahyudi sama sekali tidak mencerminkan tokoh bangsa, tokoh intelektual maupun agama”.

Kita sebagai masyarakat sipil akan heran jika pernyataan tersebut diterapkan di kehidupan sehari-hari. Berkembangnya isu tersebut tidak lain karena pihak yang tidak sejalan. Tidak semua orang dapat memahami dengan baik, jangankan satu kelompok, antara individu bisa memberi tanggapan yang berbeda, begitu juga nilai nilai yang terkandung dalam ucapan tersebut.

Pemikiran mendalam dan naluri dapat kita gunakan sebagai perihal mencari kebenaran. Tidak hanya kepercayaan yang terlihat, tetapi perasaan yang kuat akan keyakinan menjadi tolak ukur bagi pandangan yang menyesatkan masyarakat awam yang tidak mengetahui kenyataan. Mungkin pikiran kita menggunakan logika, tapi hati kita menggunakan perasaan.

 

-Enbrie