Opinion

MEMUTUS NARASI TERORISME

Terorisme adalah sebuah aksi yang tidak datang secara tiba-tiba, tahapan seseorang memilih jalan kekerasan adalah diawali dengan kontaminasi doktrin radikalisme. Terorisme merupakan panggung kekerasan yang diawali oleh narasi kekerasan dan intoleransi. Dan pelakunya adalah korban dari narasi-narasi tersebut.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan ada beberapa pola penyebaran ide kekerasan, yakni: Pengajian/Pertemuan, Media Cetak dan Elektronik, Media Online, Demonstrasi/Aksi, Hubungan Kearaban, Pendidikan, dan Dakwah.

Cara-cara tersebut sangat familiar dengan kehidupan kita sehari-hari, sehingga penyebaran narasi dan ide radikalisme. Oleh sebab itu, perlu adanya upaya untuk memutus penyebaran tersebut.

MEMPERTAJAM PERASAAN TERHADAP LINGKUNGAN
Peka terhadap lingkungan sekitar membuat kita lebih mudah menyadari kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di sekitar kita. Otak akan menyaring informasi secara otomatis, menyaringnya dalam bingkai kewarasan akal sehat. Sebab ide-ide tentang radikalisme sama sekali bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan dapat sangat jelas kita rasakan perbedaannya.

GESIT
Ketika perasaan yang tajam telah terlatih maka yang terpenting adalah gesit. Bagaimana respon kita terhadap hal-hal berbau radikalisme ataupun penyebaran ide dan narasinya harus segera kita putus, baik ketika bertemu langsung maupun tidak langsung seperti di internet.

Gesit yang harus kita lakukan adalah jangan menyebarkannya, lalu laporkan. Berhenti di kita bisa jadi mampu menghambat penyebaran narasi radikalisme, namun jika kita melaporkannya dengan segera maka kita berhasil memutus penyebaran narasi radikalisme.

 

 

Penulis: Dian Firdaus Yusuf
Editor: Hafizah Fikriah Waskan

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment